Seperti menguatkan mimpi berjalan
di Jalan Braga pagi hari. Kendaraan yang lengang, orang-orang berjalan di
terotoar melintasi para penjaja lukisan yang menjadi ciri khas jalan Braga
sejak jamam dulu. Juga tentang seniman yang tak memiliki ruang untuk mencurahkan
ide serta orang-orang yang mengapresiasi mereka. Suasana itu menggugah saya
untuk berjalan di pagi hari dengan kamera saya menangkap sisi-sisi jalan Braga.
Dengan usia saya yang sekarang ini mungkin saya tidak banyak mengetahui secara
detail sejarah Jalan Braga, namun sepanjang saya tumbuh di Kota Kembang ini
Jalan Braga telah mengalami banyak perubahan.
Perjalanan dimulai dari
perempatan Jalan Banceuy-Braga-Naripan. Braga pagi itu begitu lengang dengan
udara yang masih sejuk.
Jujur saya masih takut untuk
streetphoto karena pengalaman saya ketika kamera saya hampir dirampas polisi
ketika saya streetphoto saat ada razia lalulintas. Demikian pula pagi itu saya
hampir dikejar ibu-ibu pengemis yang tiba-tiba saja bangkit dan berkata-kata
seolah memaki dan tidak nyaman dengan kehadiran saya bersama si kamera.
Masuk ke jalan Braga yang kini
telah berganti aspal menjadi batu paping yang menjadi alas.
Saya menjumpai tulisan yang menarik. Tulisan itu dibuat dengan cat semprot instan atau yang
biasa dikenal dengan sebutan Pylox. Tulisan itu disemprotkan di dinding dan
banyak tersebar di sepanjang jalan Braga
Saya bertanya dalam hati,’
mengapa tulisan ini banyak dijumpai di sepanjang jalan Braga yang menurut saya adalah area yang menjadi saksi bisu sejarah kota Bandung dan Indonesia tentunya ?'
Ada juga gambar-gambar yang juga hasil cat semprot. Apakah para seniman ini tidak memiliki ruang dan apresiasi?
Ada juga gambar-gambar yang juga hasil cat semprot. Apakah para seniman ini tidak memiliki ruang dan apresiasi?
Lalu apakah gambar-gambar ini
sengaja dibuat oleh pemilik toko? atau dibuat secara sembunyi-sembunyi? Bagi saya
gambar-gambar ini dibuat dengan serius dan hasilnya bagus.
Selain gambar-gambar di dinding atau pintu toko-toko gedung bersejarah di sana kini telah bangkit.
Gedung Gas Negara yang lama tertidur kini telah terbangun. Gedung yang dibangun pada tahun 1919 kini dihidupkan oleh Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB pada tanggal 10-17 November 2012. Mereka membuat sebuah pameran bertajuk “Bandung Ngabaraga” yang bertempat di Gedung Gas Negara tersebut.
Itulah sepenggal kisah Jalan Braga yang saya jumpai pagi itu.
Mungkin sekian dulu streetphoto kali ini, lain waktu akan saya sambung dengan cerita sisi kota Bandung yang lain yang tentu tidak kalah menarik.. :)
Referensi :
http://fotografius.wordpress.com/2012/11/24/membangunkan-gedung-gas-negara-dari-tidur-panjangnya/










keren!
ReplyDelete