Adalah seorang muda
sedang berjalan di tepi jalan. Ia keluar dari rumah dengan segala
kegelisahannya menuju suatu tempat yang sebenarnya tak tahu dan tak jelas. Ia
hanya berjalan dan berharap menemukan sebuah tempat yang bias menjawab
pertanyaan dalam batinnya. Ia memilih untuk berjalan dengan harapan dapat
menemukan jawaban. Lama berjalan, masuklah ia ke sebuah mall. Saat masuk ke
lantai satu ia bertanya kepada seseorang,” tempat yang hening dimana ya?” lalu
dijawab “ di lantai 5 mas ada food court. Disana nyaman”. Pergilah si pemuda
menuju lantai 5 dan duduk di sebuah kursi. Disana dijumpai hirukpikuk yang
ternyata berbeda dengan apa yang dikatakan orang yang dijumpai di lantai satu. Merasa
bukan tempat yang tepat, Ia kemudian pergi lagi.
Kembali berjalan ia
melalui sebuah gang kecil yang sepi. Di gang itu ia merasa nyaman dan
terlindung dari panas terik. Sejenak ia bersandar di salahsatu temboknya.
Kemudian ia kembali berjalan karena ia tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Kemudian
dialuinya sebuah sungai. Di jembatan sejenak ia memperhatikan air yang mangalir
melewati bebatuan. Adalah seorang berjalan menghampirinya yang juga ikut diamdi
jembatan itu. Orang Duda bertanya,” dimana saya bisa menemukan keheningan?
batin saya amat gelisah.” Cari keheningan ya di tempat sepi Mas, di gunung
misalnya.
Mendangar jawaban itu
pergilah orang muda itu menuju sebuah gunung. Ia terdiam dan menatap
pemandangan yang indah hingga senja hari. Hingga sekian waktu ia tetap tidak
bisa menemukan apa yang ia cari. Ia terduduk sejenak di sebuah batu dan semakin
gelisah dengan jawaban yang dicarinya. Ia merasa begitu lelah dan memutuskan
untuk pulang. Dalam perjalanan pulang ia merasa lapar. Sejenak ia mampir di
sebuah warung nasi. Dipesannya sepiring nasi dan tahu, tempe, goring telur dan
secangkir kopi. Dengan lahap ia menyantap makanannya.
Ketika ia sedang lahap
menyantap makanan ia merasakan seret di tenggorokan dan mengaduk kopi yang
dipesanya lalu diminumlah. Ia tersedak dan batuk-batuk. Adalah seorang bapak
duduk di sampingnya yang juga menikmati segelas kopi. Berkatalah bapak itu
kepada si Orang Muda, “ Mas, kalo makan mending minumnya air putih aja, jangan
kopi.” Orang muda itu pun meminta segelas air putih.
Seusai makan, terjadi
obrolan singkat antara bapak yang mengurnya dan Orang muda
Bapak
:,”Mas, lagi ada masalah ya?”
Orang
Muda : “Emang kenapa pak?”
Bapak
:”ga Mas, keliatannya wajah mas gelisah. Ga tenang gitu.”
Orang
Muda : “gimana ya pak?” Saya cari keheningan pak..
Bapak
:" Sambil minum kopi aja yu..”
Orang
muda : “boleh pak”
Bapak
: “tadi keselek ya Mas?”. Mas kalo cari keheningan di mana saya ga tau tapi
saya ngerti caranya nimatin kopi. Kalo kopi terus-terusan di aduk ga bisa
diminum mas, apalagi masih panas. Biarin tenang dulu terus tunggu agak dingin,
nanti ampasnya turun baru enak diminum. Kayanya juga ga beda sama keheningan
yang Mas cari itu. Ga jauh mas, ada di diri Mas sendiri.
Setelah lama ngobrol
dengan sang bapak. Kata-kata tentang kopi itu terus menggema di telinganya . Ketika
malam tiba ia mencoba untuk masuk ke kamarnya dan menyalakan lilin serta
menenangkan diri. Ia terdiam menatap api lilin yang begitu tenang. Mulailah ia
mengerti apa itu keheningan. Ia memejamkan mata dan melihat setiap masalah yang
dihadapinya. Kemudian ia berdoa dan menceritakan segala masalahnya pada Tuhan. Steph.