Ada seorang tukang mengerjakan sebuah bangunan yang diperintahkan tuannya kepadanya. Tuan tersebut datang kepadanya dan berkata " Pak saya ada lahan untuk bapak bangun menjadi sebuah rumah, mengenai bahan dan isinya terserah bapak, dan tentang biaya tak usah khawatir nanti bilang sama saya". Kemudian tuan itu pergi dan meninggalkan sejumlah uang.
Seusai diperintahkan oleh tuannya maka si tukang ini mulai mengukur dan membuat konsep bangunan ala kadarnya. Ia mengerjakannya dengan asal-asalan dan tidak sepenuh hati namun ia tetap mengerjakannya hingga sebuah bangunan terbentuk dan selesai beserta isinya.
Setelah semuanya telah selesai maka tuan tersebut datang kembali menemuinya. Tukang itu pun berkata pada Tuannya " Pak, apa yang bapak perintahkan sudah selesai saya kerjakan dan ini kunci rumahnya". Tuan tersebut berkata " Baik, terimakasih karena bapak telah mengerjakannya'. sekarang kunci ini saya kembalikan lagi kepada bapak. Lalu tuan itu berkata "Sebenarnnya rumah itu saya peruntukan buat bapak".
Mendengar perkataan tuannya tukang itu merasa sedih dan menyesal telah mengerjakan bangunan itu dengan setengah hati, ia memandang dan menangis di depan bangunan yang telah dibuatnya.
Terkadang kita menyia-nyiakan kesempatan, waktu dan kepercayaan yang telah diberikan kepada kita. Cerita di atas adalah sebuah ilustrasi kehidupan yang dipercayakan kepada kita, namun terkadang kita menjalani nya dengan tidak sepenuh hati.
Semoga cerita di atas dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca...