Hari ini di awal bulan ke empat, tahun 2010 saya mengawali tri duum di masa tri hari suci. Dalam segala kebimbangan saya dan jutaan pertanyaan serta ribuan perdebatan dalam kepala saya diajak untuk mengenang dan melihat jejak kaki saya yang telah saya pijakan di sebuah jalan setapak yang saya tak pernah tahu akhirnya dan ketidak pastian yang menemani saya.
Pagi ini saya mulai menata diri dan berusaha bangkit dari segala keterperososkan saya di jalan gelap tanpa cahaya dan tak berujung. Saya terbangun dari mimpi-mimpi dan tidur saya, dan saya melangkahkan kaki menuju dinginnya air kehidupan yang menyegarkan. Saya lalu menemui Dia di tempat yang biasanya kami bertemu. Di sana saya bekerja keras diantara indahnya mimpi dan keheningan. Ketika jiwa saya melayang dan mengubah posisi tubuh, saya menariknya kembali untuk diam menikmati keheningan. Tak jarang saya jatuh. Kadang pesimis, kadang optimis.
Matahari mulai beranjak naik menghangatkan alam. Saya berjalan menghampiri karunia-Nya dan menikmatinya. Setelah segar saya mendengarkan Dia yang bersabda dan ingin mengajak saya kembali melihat jejak dari sejak ia memanggil saya di tengah keramaian.
Saya diajak-Nya menonton film dokumenter. Fim dimulai, saya melihat diri saya sebagai tokoh utama. Saat itu saya menoleh dan melihat kepada-Nya, ketika saya tahu tidak banyak yang menghiraukan suara-Nya. Saya kemudian makin mendekat kepadanya ketika saya mengerti rasanya disakiti. Ketika hampir sampai Dia bertanya kepada saya “ sudah mantap?” dan saya menjawab “belum”.
Saya kembali berkelanan di tengah keramaian. Saya mencari sekuntum bunga yang indah di sebuah taman, tanpa saya tahu dan mengerti arti keindahan dan menikmati keindahan itu. Tapi saya memaksakan diri memetik bunga itu. Tapi sayang, saya tak pernah sesungguhnya memiliki bunga itu.
Dia kembali mengahmpiri saya dan mengajak saya ke sebuah tempat. Rasanya saya ingin berada di sana, tapi belum saatnya saya berada di sana. Saya kembali ke tengah keramaian. Saya menemukan sekuntum bunga. Tapi dengan segala kerja keras dan memaksakan diri. Awalnya bunga itu saya genggam, tapi lalu hilang dan sulit saya cari, hingga saya memutuskan untuk tidak mencarinya dan kembali kepada Dia yang pernah berseru memanggil saya.
Dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama “ sudah mantap?” saya tak menjawab, tapi saya mengikutinya dan berjalan dibelakangnya. Ternyata berjalan bersamanya banyak gembiranya dan sedikit sedihnya, rasanya indah seperti dalam banyangan saya. Bersama-Nya hidup saya berubah. Saya bertemu dengan orang-orang yang juga seperti saya. Saya selalu semangat dan ceria. Sampai sesuatu menarik saya dan mengajak saya untuk diam. Saya kali ini mulai mengerti Indahnya sekuntum bunga. Rasanya tak ingin saya pergi dari taman di persimpangan jalan itu. Rasanya ingin sekali masuk meloncati pagar taman itu dan memetik bunga itu. Berhari-hari saya berada di sana hingga saya bingung kemana arah perjalanan rombongan saya. Saya masuk ke dalam suatu jalan yang begitu gelap. Di sana saya tak bisa melangkah, saya terjatuh. Lama saya diam di sana, rasanya ingin berteriak. Saya ingin pulang kembali ke dalam keramaian, tapi dengan sekuntum bunga itu. Ingin saya menjerit. Saya terdiam, bertanya kepada hati dan pikiran “ seharusnyakah aku berada di sini?”
Saya teringat akan pertanyaan-Nya “ sudah mantap?” saya belum bisa menjawab. Saya menangis dalam gelap itu. Saya teringat akan seseorang, tepatnya seorang ibu. Ia seorang biarawati. Ia pernah bercerita tenttang kehidupanya. Dalam hidupnya pun pernah mengalami kegelapan, bahkan lebih gelap daripada kegelapan yang saya alami. Saya masih terdiam belajar memaknai kesetiaan. Saya mulai lebih tenang berada di jalan gelap itu. saya mulai berani merangkak meski terantuk-antuk pada bebatuan tajam. Saya melihat remang yang jauh sekali. Ketika saya ingin meraihnya seseorang memadamkannya. Langkah kaki saya terhenti. Saya mencari sesuatu untuk bisa saya nyalakan. Tiba-tiba sesorang menepuk pundak saya dan memebrikan sebatang lilin, Dia menuntun saya dan berkata “ nyalakan lilinmu!”. Maka saya pun menyalakan lilin saya dengan korek api yang dibawa-Nya.
Film itu tiba-tiba dihentikan dan saya kaget. Saya bertanya “ kenapa?” lalu jawab-Nya “kamu harus berperan lagi. Film ini tak akan selesai tanpa kamu memerankannya”. Ia bertanya lagi “ kamu sudah siap menyebrang?” saya kembali terdiam. Saya harus mengumpulkan segenap keberanian untuk melangkahkan kaki. Saya harus menyusun rencana saya saat saya sudah ada di seberang sana.
4/4/2010