Laman

Saturday, November 9, 2013

Cinta Insan Sederhana

Aku tak menjanjikan lautan untukmu
juga bintang sebagai hiasan mahkotamu

Aku tak memujamu bagai dewi
dan tidak menjadikanmu ratu

Kita hanyalah dua insan
melakoni cinta di dunia

Dan semua pemberian
Dan semua titipan

Bagiku kamu istimewa
Kamu apa adanya

Lebih mahal dari emas
dan lebih berharga dari permata

Tak mampu dibeli oleh harta
Tak terganti oleh materi

Kamu adalah pemberian-Nya
Jawaban dari doaku

Aku bukan insan sempurna
Begitupun kamu

Tapi, kita berdua bisa saling melengkapi
Menggenapi yang tertulis pada buku Suci

Bahagiaku adalah bersamamu
Menemani hingga waktu tak lagi mampu kutemui







Wednesday, September 25, 2013

Tari Jemari Dini Hari

Begitu lama tanganku tak bergerak diatas papan tombol
merangkai kata mengisi ruang kreatifitas ini
sebegitu kuatnya kesibukan membelenggu tangan ini
sebegitu kuatanya orang-orang yang berseru
demikian gigih memasukan sudut pandang mereka pada pikiranku

Hari ini, sesungguhnya terlalu dini
namun tak satu apapun menahan mimpi
tak satu hal pun memenjarakan ide
tak ada alat menahan cita-cita
dan belenggu rindu dipatahkan

Sekian waktu tangan ini tertahan si pemalas
imajinasi ini dimabuk kesibukan
dan ide dikurung dibalik lelah fisik

Aku berlari
berlari kabur dari sekap menuju kebebasan
dan tangan ini kembali menari merajut kata
dan dingin malam tak membunuhku
dia menemani aku menarikan jemariku


Tuesday, May 21, 2013

Tiga Calon Rahib

Suatu hari di suatu biara kedatangan tiga orang calon rahib yang mendaftar ke biara tersebut. Ketiga orang calon tersebut bertemu dengan pemimpin biara. Sebelum secara resmi calon-calon tersebut masuk biara pimpinan biara memberikan ujian. Ujian yang diberikan sangat sederhana yaitu menjual sisir. Masing-masing calon diberikan sekantong sisir berjmlah 300 buah.

Calon pertama terdiam, berfikir bagaimana menjual sisir sebanyak itu. Ia menjual sisir dengan harga 10.000. Sepanjang hari tidak ada yang membeli dan kemudian ia menurunkan harga menjadi 10.000 3 sisir, namun msih belum ada juga yang memebelinya. Hingga ia akhirnya menurunkan harga hingga 1.000 dan akhirnya ada yang membeli, itupun karena belas kasihan.

Calon kedua kemudian berfikir bagaimana agar sisir-sisir tersebut laku. Ia kemudian menawarkan sisir-sisir tersebut sambil berkata-kata ' Di dalam biara memang penghuninya tidak berambut, namun alangkah baiknya bila kita menyisir terlebih dahulu agar terlihat rapi sebelum bertemu mereka'. Dengan usahanya itu dalam sehari itu dia menjual 30 buah sisir.

Calon ketiga kemudian berfikir lagi, bagaimana agar semua sisir tersebut laku terjual. Lalu peserta tersebut menemui sang pemimpin biara tersebut. Dia membawa sisir tersebut dan meminta sang pemimpin untuk menandatangani semua sisir yang akan dijualnya. Karena pimpinan biara tersebut adalah orang yang baik, maka ditandatanganinya seluruh sisir tersebut.

Ketika berjualan calon ketiga ini berseru-seru ' Ayo belilah sisir ini, maka anda akan mendapatkan berkat dari pimpinan biara. Sisir ini ditadatangani oleh pimpinan biara secara langsung, maka dengan membelinya anda akan mendapatkan berkat. Dan apa yang terjadi? sebelum sehari sisir itu telah habis terjual.

Seringkali kita terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan kurang membuka hati pada kehadiran Roh Kudus. Calon-calon rahib pertama berdiam dan tidak melakukan banyak usaha. Kemudian calon yang kedua melakukan usahanya sedemikian rupa namun juga tidak maksimal. Calon yang ketiga tidak melakukan usahanya sendiri, ia menggunakan kekuatan yang di dalam untuk masuk ke dalam, yaitu pimpinan biara.

Sumber: Homili Pst. Wirasmohadi Soeryo saat Misa Pentakosta 19-5-2013 di Gereja St. Martinus

Monday, March 25, 2013

Perjumpaan

Indahnya perjumpaan membawa kegembiraan 
dan jutaan harapan akan kebahagiaan

Dan tentang mimpi-mimpi hari depan 
berasal dari suatu perjumpaan
dengan apapun itu

Perjumpaan denganmu
Adalah abstrak

Harapan terbesar 
adalah jika waktu masih memberi detaknya di jantung ini,
kamu pernah hadir mengisi sepi itu dan riuhnya. 

Hingga tak sebaris puisi lagi 
mampu kugoreskan dengan pena pada carik
dan Sang Empu diri ini memanggil

Dengan nafas dan Iman, bersama gelap dan terang, 
dengen dingin dan terik aku percaya

Dia akan mengirimu untuku di satu waktu untuk bersamaku..

Saturday, March 16, 2013

Aku Rindu

Aku rindu
Rindu kamu 
Rindu untuk melangkah dari masa laluku
Rindu kamu yang akan kurindu

Aku rindu kamu
rindu saat bersamamu
kamu yang entah siapa
yang akan datang mengisi sepiku
mengisi fikirku
mengisi batinku
mengisi hatiku

Aku rindu
ketika kita berdua bersama
terseyum menceritakan pagi
berjuang dalam siang
tertawa menanti senja
terdiam menatap malam
dan penuh harap akan sang fajar

Aku rindu
Rindu kerinduan
Kerinduan pada seseorang
Seseorang yang dikirim-Nya
Dikirim-Nya untuk menememani
Menemani aku menghabiskan waktu
Waktuku hidup hingga harus kembali pada-Nya

Sunday, March 3, 2013

Streetphoto 1 (Braga)


Seperti menguatkan mimpi berjalan di Jalan Braga pagi hari. Kendaraan yang lengang, orang-orang berjalan di terotoar melintasi para penjaja lukisan yang menjadi ciri khas jalan Braga sejak jamam dulu. Juga tentang seniman yang tak memiliki ruang untuk mencurahkan ide serta orang-orang yang mengapresiasi mereka. Suasana itu menggugah saya untuk berjalan di pagi hari dengan kamera saya menangkap sisi-sisi jalan Braga. Dengan usia saya yang sekarang ini mungkin saya tidak banyak mengetahui secara detail sejarah Jalan Braga, namun sepanjang saya tumbuh di Kota Kembang ini Jalan Braga telah mengalami banyak perubahan.

Perjalanan dimulai dari perempatan Jalan Banceuy-Braga-Naripan. Braga pagi itu begitu lengang dengan udara yang masih sejuk.

Jujur saya masih takut untuk streetphoto karena pengalaman saya ketika kamera saya hampir dirampas polisi ketika saya streetphoto saat ada razia lalulintas. Demikian pula pagi itu saya hampir dikejar ibu-ibu pengemis yang tiba-tiba saja bangkit dan berkata-kata seolah memaki dan tidak nyaman dengan kehadiran saya bersama si kamera.

Masuk ke jalan Braga yang kini telah berganti aspal menjadi batu paping yang menjadi alas.


Saya menjumpai tulisan yang menarik. Tulisan itu dibuat dengan cat semprot instan atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pylox. Tulisan itu disemprotkan di dinding dan banyak tersebar di sepanjang jalan Braga


Saya bertanya dalam hati,’ mengapa tulisan ini banyak dijumpai di sepanjang jalan Braga yang menurut saya adalah area yang menjadi saksi bisu sejarah kota Bandung dan Indonesia tentunya ?'

Ada juga gambar-gambar yang juga hasil cat semprot. Apakah para seniman ini tidak memiliki ruang dan apresiasi?






Lalu apakah gambar-gambar ini sengaja dibuat oleh pemilik toko? atau dibuat secara sembunyi-sembunyi? Bagi saya gambar-gambar ini dibuat dengan serius dan hasilnya bagus.

Selain gambar-gambar di dinding atau pintu toko-toko gedung bersejarah di sana kini telah bangkit.


Gedung Gas Negara yang lama tertidur kini telah terbangun. Gedung yang dibangun pada tahun 1919 kini dihidupkan oleh Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB pada tanggal 10-17 November 2012. Mereka membuat sebuah pameran bertajuk “Bandung Ngabaraga” yang bertempat di Gedung Gas Negara tersebut.

Itulah sepenggal kisah Jalan Braga yang saya jumpai pagi itu. 

Mungkin sekian dulu streetphoto kali ini, lain waktu akan  saya sambung dengan cerita sisi kota Bandung yang lain yang tentu tidak kalah menarik.. :)

Referensi :
http://fotografius.wordpress.com/2012/11/24/membangunkan-gedung-gas-negara-dari-tidur-panjangnya/



Friday, March 1, 2013

Son and His Daddy



SON: "Daddy, may I ask you a question?"
DAD: "Yeah sure, what is it?"
SON: "Daddy, how much do you make an hour?"
DAD: "That's none of your business. Why do you ask such a thing?"
SON: "I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?"
DAD: "If you must know, I make $100 an hour."
SON: "Oh! (With his head down).
SON: "Daddy, may I please borrow $50?"
The father was furious.
DAD: "If the only reason you asked that is so you can borrow some money to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you are being so selfish. I work hard everyday for such this childish behavior."

The little boy quietly went to his room and shut the door.
The man sat down and started to get even angrier about the little boy's questions. How dare he ask such questions only to get some money?
After about an hour or so, the man had calmed down, and started to think:
Maybe there was something he really needed to buy with that $ 50 and he really didn't ask for money very often. The man went to the door of the little boy's room and opened the door.

DAD: "Are you asleep, son?"

SON: "No daddy, I'm awake".
DAD: "I've been thinking, maybe I was too hard on you earlier. It's been a long day and I took out my aggravation on you. Here's the $50 you asked for."

The little boy sat straight up, smiling.
SON: "Oh, thank you daddy!"
Then, reaching under his pillow he pulled out some crumpled up bills. The man saw that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, and then looked up at his father.

DAD: "Why do you want more money if you already have some?"

SON: "Because I didn't have enough, but now I do.

"Daddy, I have $100 now. Can I buy an hour of your time? Please come home early tomorrow. I would like to have dinner with you."
The father was crushed. He put his arms around his little son, and he begged for his forgiveness. It's just a short reminder to all of you working so hard in life. We should not let time slip through our fingers without having spent some time with those who really matter to us, those close to our hearts. Do remember to share that $100 worth of your time with someone you love? If we die tomorrow, the company that we are working for could easily replace us in a matter of days. But the family and friends we leave behind will feel the loss for the rest of their lives. And come to think of it, we pour ourselves more into work than to our family.

Some things are more important.


Sumber : 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=511190462253506&set=a.188109461228276.39292.100000876715812&type=1&theater