Suatu hari di suatu biara kedatangan tiga orang calon rahib yang mendaftar ke biara tersebut. Ketiga orang calon tersebut bertemu dengan pemimpin biara. Sebelum secara resmi calon-calon tersebut masuk biara pimpinan biara memberikan ujian. Ujian yang diberikan sangat sederhana yaitu menjual sisir. Masing-masing calon diberikan sekantong sisir berjmlah 300 buah.
Calon pertama terdiam, berfikir bagaimana menjual sisir sebanyak itu. Ia menjual sisir dengan harga 10.000. Sepanjang hari tidak ada yang membeli dan kemudian ia menurunkan harga menjadi 10.000 3 sisir, namun msih belum ada juga yang memebelinya. Hingga ia akhirnya menurunkan harga hingga 1.000 dan akhirnya ada yang membeli, itupun karena belas kasihan.
Calon kedua kemudian berfikir bagaimana agar sisir-sisir tersebut laku. Ia kemudian menawarkan sisir-sisir tersebut sambil berkata-kata ' Di dalam biara memang penghuninya tidak berambut, namun alangkah baiknya bila kita menyisir terlebih dahulu agar terlihat rapi sebelum bertemu mereka'. Dengan usahanya itu dalam sehari itu dia menjual 30 buah sisir.
Calon ketiga kemudian berfikir lagi, bagaimana agar semua sisir tersebut laku terjual. Lalu peserta tersebut menemui sang pemimpin biara tersebut. Dia membawa sisir tersebut dan meminta sang pemimpin untuk menandatangani semua sisir yang akan dijualnya. Karena pimpinan biara tersebut adalah orang yang baik, maka ditandatanganinya seluruh sisir tersebut.
Ketika berjualan calon ketiga ini berseru-seru ' Ayo belilah sisir ini, maka anda akan mendapatkan berkat dari pimpinan biara. Sisir ini ditadatangani oleh pimpinan biara secara langsung, maka dengan membelinya anda akan mendapatkan berkat. Dan apa yang terjadi? sebelum sehari sisir itu telah habis terjual.
Seringkali kita terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan kurang membuka hati pada kehadiran Roh Kudus. Calon-calon rahib pertama berdiam dan tidak melakukan banyak usaha. Kemudian calon yang kedua melakukan usahanya sedemikian rupa namun juga tidak maksimal. Calon yang ketiga tidak melakukan usahanya sendiri, ia menggunakan kekuatan yang di dalam untuk masuk ke dalam, yaitu pimpinan biara.
Sumber: Homili Pst. Wirasmohadi Soeryo saat Misa Pentakosta 19-5-2013 di Gereja St. Martinus