Laman

Monday, March 25, 2013

Perjumpaan

Indahnya perjumpaan membawa kegembiraan 
dan jutaan harapan akan kebahagiaan

Dan tentang mimpi-mimpi hari depan 
berasal dari suatu perjumpaan
dengan apapun itu

Perjumpaan denganmu
Adalah abstrak

Harapan terbesar 
adalah jika waktu masih memberi detaknya di jantung ini,
kamu pernah hadir mengisi sepi itu dan riuhnya. 

Hingga tak sebaris puisi lagi 
mampu kugoreskan dengan pena pada carik
dan Sang Empu diri ini memanggil

Dengan nafas dan Iman, bersama gelap dan terang, 
dengen dingin dan terik aku percaya

Dia akan mengirimu untuku di satu waktu untuk bersamaku..

Saturday, March 16, 2013

Aku Rindu

Aku rindu
Rindu kamu 
Rindu untuk melangkah dari masa laluku
Rindu kamu yang akan kurindu

Aku rindu kamu
rindu saat bersamamu
kamu yang entah siapa
yang akan datang mengisi sepiku
mengisi fikirku
mengisi batinku
mengisi hatiku

Aku rindu
ketika kita berdua bersama
terseyum menceritakan pagi
berjuang dalam siang
tertawa menanti senja
terdiam menatap malam
dan penuh harap akan sang fajar

Aku rindu
Rindu kerinduan
Kerinduan pada seseorang
Seseorang yang dikirim-Nya
Dikirim-Nya untuk menememani
Menemani aku menghabiskan waktu
Waktuku hidup hingga harus kembali pada-Nya

Sunday, March 3, 2013

Streetphoto 1 (Braga)


Seperti menguatkan mimpi berjalan di Jalan Braga pagi hari. Kendaraan yang lengang, orang-orang berjalan di terotoar melintasi para penjaja lukisan yang menjadi ciri khas jalan Braga sejak jamam dulu. Juga tentang seniman yang tak memiliki ruang untuk mencurahkan ide serta orang-orang yang mengapresiasi mereka. Suasana itu menggugah saya untuk berjalan di pagi hari dengan kamera saya menangkap sisi-sisi jalan Braga. Dengan usia saya yang sekarang ini mungkin saya tidak banyak mengetahui secara detail sejarah Jalan Braga, namun sepanjang saya tumbuh di Kota Kembang ini Jalan Braga telah mengalami banyak perubahan.

Perjalanan dimulai dari perempatan Jalan Banceuy-Braga-Naripan. Braga pagi itu begitu lengang dengan udara yang masih sejuk.

Jujur saya masih takut untuk streetphoto karena pengalaman saya ketika kamera saya hampir dirampas polisi ketika saya streetphoto saat ada razia lalulintas. Demikian pula pagi itu saya hampir dikejar ibu-ibu pengemis yang tiba-tiba saja bangkit dan berkata-kata seolah memaki dan tidak nyaman dengan kehadiran saya bersama si kamera.

Masuk ke jalan Braga yang kini telah berganti aspal menjadi batu paping yang menjadi alas.


Saya menjumpai tulisan yang menarik. Tulisan itu dibuat dengan cat semprot instan atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pylox. Tulisan itu disemprotkan di dinding dan banyak tersebar di sepanjang jalan Braga


Saya bertanya dalam hati,’ mengapa tulisan ini banyak dijumpai di sepanjang jalan Braga yang menurut saya adalah area yang menjadi saksi bisu sejarah kota Bandung dan Indonesia tentunya ?'

Ada juga gambar-gambar yang juga hasil cat semprot. Apakah para seniman ini tidak memiliki ruang dan apresiasi?






Lalu apakah gambar-gambar ini sengaja dibuat oleh pemilik toko? atau dibuat secara sembunyi-sembunyi? Bagi saya gambar-gambar ini dibuat dengan serius dan hasilnya bagus.

Selain gambar-gambar di dinding atau pintu toko-toko gedung bersejarah di sana kini telah bangkit.


Gedung Gas Negara yang lama tertidur kini telah terbangun. Gedung yang dibangun pada tahun 1919 kini dihidupkan oleh Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB pada tanggal 10-17 November 2012. Mereka membuat sebuah pameran bertajuk “Bandung Ngabaraga” yang bertempat di Gedung Gas Negara tersebut.

Itulah sepenggal kisah Jalan Braga yang saya jumpai pagi itu. 

Mungkin sekian dulu streetphoto kali ini, lain waktu akan  saya sambung dengan cerita sisi kota Bandung yang lain yang tentu tidak kalah menarik.. :)

Referensi :
http://fotografius.wordpress.com/2012/11/24/membangunkan-gedung-gas-negara-dari-tidur-panjangnya/



Friday, March 1, 2013

Son and His Daddy



SON: "Daddy, may I ask you a question?"
DAD: "Yeah sure, what is it?"
SON: "Daddy, how much do you make an hour?"
DAD: "That's none of your business. Why do you ask such a thing?"
SON: "I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?"
DAD: "If you must know, I make $100 an hour."
SON: "Oh! (With his head down).
SON: "Daddy, may I please borrow $50?"
The father was furious.
DAD: "If the only reason you asked that is so you can borrow some money to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you are being so selfish. I work hard everyday for such this childish behavior."

The little boy quietly went to his room and shut the door.
The man sat down and started to get even angrier about the little boy's questions. How dare he ask such questions only to get some money?
After about an hour or so, the man had calmed down, and started to think:
Maybe there was something he really needed to buy with that $ 50 and he really didn't ask for money very often. The man went to the door of the little boy's room and opened the door.

DAD: "Are you asleep, son?"

SON: "No daddy, I'm awake".
DAD: "I've been thinking, maybe I was too hard on you earlier. It's been a long day and I took out my aggravation on you. Here's the $50 you asked for."

The little boy sat straight up, smiling.
SON: "Oh, thank you daddy!"
Then, reaching under his pillow he pulled out some crumpled up bills. The man saw that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, and then looked up at his father.

DAD: "Why do you want more money if you already have some?"

SON: "Because I didn't have enough, but now I do.

"Daddy, I have $100 now. Can I buy an hour of your time? Please come home early tomorrow. I would like to have dinner with you."
The father was crushed. He put his arms around his little son, and he begged for his forgiveness. It's just a short reminder to all of you working so hard in life. We should not let time slip through our fingers without having spent some time with those who really matter to us, those close to our hearts. Do remember to share that $100 worth of your time with someone you love? If we die tomorrow, the company that we are working for could easily replace us in a matter of days. But the family and friends we leave behind will feel the loss for the rest of their lives. And come to think of it, we pour ourselves more into work than to our family.

Some things are more important.


Sumber : 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=511190462253506&set=a.188109461228276.39292.100000876715812&type=1&theater