Laman

Friday, December 21, 2012

Demikianlah Cinta


Kata demi kata kurangkai untukmu
nampaknya tak sepenuhnya kau mengerti
Memang yang kutulis kalimat bersayap
kerna begitulah puisi
Namun sesungguhnya aku hanya ingin mengatakan
aku cinta kamu

Cinta seperti kupu-kupu yang terbang melayang
Sayapnya warna-warni memabukkan
Bila kau kejar ia terbang semakin jauh
Bayangnya pun tak mampu kau raih
Bila engkau diam ia akan datang menghampiri,
ho hinggap di hatimu

Kekasihku, ulurkan jemari tanganmu,
dekaplah aku ke dalam helaan nafas
rindu biarkanlah terbakar
cemburu biarkanlah membara
sebab demikianlah cinta

Cinta seperti kupu-kupu yang terbang melayang
Sayapnya warna-warni memabukkan
Bila kau kejar ia terbang semakin jauh
Bayangnya pun tak mampu kau raih
Bila engkau diam ia akan datang menghampiri,
ho ho ho hinggap di hatimu

Kekasihku, ulurkan jemari tanganmu,
dekaplah aku ke dalam helaan nafas
rindu biarkanlah terbakar
cemburu biarkanlah membara
sebab rindu biarkanlah terbakar
cemburu biarkanlah membara
sebab demikianlah cinta

Song: Ebiet G Ade

Sunday, December 2, 2012

Rasa di Pagi Buta

Dan kini nampaknya keinginan itu salah
entah aku yang terlalu berlebihan
menafsirkan hal itu sepihak

Pagi ini kala hari berganti aku merindumu
rindu senyumu yang pernah kusaksikan
dirimu yang dulu pernah ada di sini

Kini aku melihat gambarmu
yang mungkin bahagia bersamanya
dan aku nampaknya bukan seseorang yang tepat

Dia yang mungkin bisa memberi
apa yang aku tak pernah beri
dan kini dia mampu

Mungkin lain dengan aku
yang hanya bisa merindukanmu
yang hanya berdiam diri sebatas angan

Atau kamu yang berusaha bahagia
meski semua itu lain di wajah lain di hati
serta berusaha menikmati semuanya

Nampaknya keinginan itu salah
Kamu kini bahagia
dan aku mestinya ikut bahagia

bukankah begitu?
Atau aku yang terlalu dangkal menilai?
Ataukah itu hanya bagian masa lalumu?

Aku yang tak pernah berani
menuliskan namamu dalam puisi-puisiku
ingin mengharapmu kembali

akankah itu begitu konyol?
seorang pria penakut yang menanti bintang
dan hanya berpuisikan harapan tanpa tindakan

Kamu yang begitu baik
yang pernah aku sia-siakan
dan kini diharapkan lagi

Sebutir berlian tak pantas dibingkai tembaga
bukankah demikian emas lebih pantas
lantas itukah cinta?

ataukah pikiran kita yang tengah dibelenggu
dibelenggu adat budaya
dan aturan yang mengekang cinta..?

atau aku yang terlalu pagi melamun
dan membuat pikiran yang tak jelas
dan rasa di pagi buta??