Hari ini begitu sepi, yang terdengar hanya detak waktu. Kuhindari pandangan kosong dan coba tuk tersenyum. Mengalihkan kespian aku menyusuri jalan berharap derunya dapat mengubah kesepian itu. Aku terus berjalan dan menghampiri sayup-sayup suara seruling. Aku mendekat, berharap lengkingnya dapat mengetarkan sepi itu tapi semuanya sia-sia. Sepi itu terlalu dalam untuk digetarkan karena ia ada dalam hati.
Tengah jauh berjalan, aku pun berhenti dan terdiam. Aku menatap langit yang begitu kejam membakar apa yang disinarinya. Seorang tua mengayuh sepeda menjajakan dagangannya. Tak lelah meski terbakar. Di sudut lain pengamen dengan riang mendendangkan lagu yang sumbang tanpa mengerti melodinya tak searah dengan lagu. Juga aksi monyet bodoh yang pasrah atas rantai yang terikat di leher, beraksi demi nasi berlagak demi lapak dan terkekeh demi sekping uang receh. Di tengah semua itu aku masih merasa sepi.
Aku meneruskan perjalanan pada seorang sahabatku. Rencana ketika itu adalah untuk menyalurkan hobiku pada motornya yang bermasalah dan mengajaknya melihat kompleksnya masalah hari ini. Setalah usai aku dengan rencanaku yang pertama hujan turun. Tak berarti sebenarnya dibanding sengatan surya hari ini. Dan kesepianku masih enggan beranjak.