Ada seorang bapak di sebuah desa memiliki dua orang anak laki-laki. Bapak tersebut berpropesi sebagai seorang petani untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Bapak tersebut memiliki dua petak sawah yang luasnya hampir sama. Ketika ia masih muda dan kedua anaknya masih kecil sawah itu dikelolanya bersama dengan kedua anak lelakinya dan juga istrinya.
Seumur hidupnya ia menghabiskan waktu bersama seorang istri dan kedua anaknya. Ketika ia menanam benih-benih padi di ladang bersama anak-anaknya sang bapak selalu memberikan cerita-cerita bijak dan bermakna bagi anak-anaknya. Begitu pula ketika benih itu tumbuh besar menjadi padi serta siap dipanen, sang bapak selalu becerita tentang cerita bijak kepada kedua anak lelakinya. Begitu terus hingga anak-anaknya tumbuh dewasa. Tak pernah sang bapak lupa untuk memberikan nilai-nilai kejujuran bagi keduanya.
Suatu saat Yang Mahakuasa memanggil sang bapak yang bijaksana, setia dan jujur ini untuk pulang kembali ke pangkuan-Nya. Sebelum meninggal bapak itu berpesan bagi kedua anaknya dan juga istrinya, " Anak-anakku, kamu yang sulung silahkan kelola sawah bapak yang sebelah Timur, urus sebaik-baiknya. Kamu anakku yang bungsu, kelola sawah bapak yang sebelah barat, urus dengan sebaik-baiknya. Untukmu istriku, terimakasih telah mendampingiku selama hidupku dengan keetiaan, kesabaran, dan cinta kasih yang begitu besar kepadaku dan anak-anak kita. Aku titipkan mereka kepadamu. Bapak minta maaf jika Bapak punya kesalahan dan kekurangan selama Bapak mendidik dan mendampingi kalian." Setelah menitipkan amantnya sang Bapak pun kembali kepada Yang Mahakuasa dengan tenang dan damai.
Seiring waktu berjalan, kedua anak lelaki itu pun mengelola sawah mereka dengan semangat dan segala amanat yang ditipkan sang Bapak. Merekapun tengah berkeluarga dan hidup masing-masing. Namun dalam perjalananya si Sulung terpengaruh dengan bujukan-bujukan dari berbagai pihak dan mulai mengakali sawahnya dan nilai-nilai kejujuran serta kebijaksanaan yang ditanamkan sang Bapak perlahan-lahan pudar. Sementara si Bungsu tetap memegang teguh apa yang pernah diceritakan sang Bapak semasa hidupnya dan setia memegang amanatnya. Meskipun seringkali tak sesukses kakaknya.
Hidup si Sulung pun semakin pesat berkembang dibanding si Bungsu. Apa yang dimiliki si Sulung begitu cepat berlalu dan berganti, namun apa yang dimiliki si Bungsu lebih abadi dan tak semaju si Sulung namun hidup si Bungsu begitu tenang dengan segala kecukupannya.
Suatu saat keduanya jatuh sakit secara bersamaan dan dalam mimpinya mereka bertemu sang Bapak. Sang Bapak berkata kepada si Bungsu," Ayo ikut Bapak pulang". dan kemudian kepada si Sulung sang Bapak menitipkan pesan, "Kamu kelola terus ya sawah bapak. Kamu tentu masih ingat kan cerita-cerita Bapak sewaktu kamu kecil". Si Sulung terbangun dari tidurnya dan pergi menuju tempat si Bungsu, namun si Sulung mendapatinya telah pulang kembali kepada Yang Mahakuasa. Si Sulung mulai mengerti mimpinya dan merenungkan kehidupan yang pernah ia jalani dan lalui. Ia mulai mencoba memperbaiki dirinya.
No comments:
Post a Comment
Gabung di Blog saya gampang, aman terkendali dan gratis.
buat yang punya account email pasti bisa kayanya..