Pernahkah anda melihat cahaya matahari? lampu ? lilin? atau api unggun? Jawabanya pasti :Pernah. Namun pernahkah kita memperhatikan apa yang diberikan mereka atau memperhatikan mereka yang senantiasa menyinari kita? ada dua kemungkinaan jawaban antara pernah dan tidak.
Saya ingin sedikit berbagi tentang cahaya yang saya anggap dan saya pilih sebagai simbol ketulusan. Ketulusan adalah salah satu unsur dari cinta. Dengan ketulusan manusia rela berkorban dan karena ketulusan itu unsur dari cinta tak jarang pengorbanan itu memberikan segalanya. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan tulus akan membuahkan hasil yang baik. Saya menyimbolkan ketulusan itu dengan cahaya.

Pertama adalah matahari. Pernahkah melihat matahari terbit? Jika pernah mungkin anda juga bisa merasakan kehangatannya. Setiap hari matahari selalu setia dan tak pernah terlambat bersinar, tak pernah menunggu manusia terbangun dari tidurnya. Setiap hari dengan sinarnya menghangatkan serta memberikan kehidupan. Pernahkah terbayangkan jika matahari tidak bersinar, apa yang terjadi?. Karena matahari tumbuhan tumbuhan tumbuh dan bunga bermekaran. Karena matahari ayam berkokok dan burung berkicau. Kita pun dapat merasakan hangatnya. Ketika matahari tidak bersinar mungkin semua itu tidak ada.
Kedua adalah lampu. Lampu yang kita kenal saat ini secara umum adalah lampu listrik. Ketika kita hubungkan lampu dengan listrik maka tanpa diperintahkan lampu akan menyala. Lampu akan menyala hingga ia tidak mampu lagi menyala. Ketika kawat pijarnya putus atau listrik berhenti ia akan mati.
Ketiga adalah api. Api mendasari unsur cahaya. Dalam setiap cahaya ada api, misalnya dalam lampu. Kawat pijar yang ada dalam lampu terbakar hingga bercahaya. Bahkan matahari pun adalah bola api yang begitu besar. Ketika kita berada di dekat api kita merasakan hangat dan sekaligus melihat terangnya. Api menyala dengan bahan bakar. Beragam bahan yang bisa menimbulkan api seperti: minyak, kayu, kertas, plastik, dll. Dengan apa yang dilalapnya api akan terus berkobar tanpa peduli ada yang merasakannya atau tidak. Namun jangan sekali-kali mempermainkan api karena ia akan membakar, maka jangan sekali-kali kita mempermainkan ketulusan.
Belajar dari cahaya semoga kita semakin mengerti arti ketulusan.

No comments:
Post a Comment
Gabung di Blog saya gampang, aman terkendali dan gratis.
buat yang punya account email pasti bisa kayanya..